Sabtu, 19 Desember 2015

Restrained

Hari ini aku seperti tersadar, entah dari mimpi indah atau buruk. Bukan, dari mendung yang aku buat sendiri. Dari prediksi tidak mungkin yang aku rangkai sendiri.

Padahal kamu begitu jelas. Paling tidak waktu itu.

Apa sekarang terlambat? Enggak, kan? Kumohon.

 ***

“Kira-kira cewek kalo dikasih gini gimana?” tanyaku pada Gina. Aku menyodorkan berlembar-lembar karikatur wajah Sean. Agak miris dan menyedihkan, tapi aku sudah “mengumpulkan” ini agak lama. Dan siapapun yang melihat gambar-gambar itu bisa mencermati progress kemampuan menggambarku, menandakan rentang waktunya cukup panjang.

Gina yang dari tadi agak acuh segera menyambar tumpukan gambar dan memeriksanya satu persatu. Matanya membelalak.

“Gila. Sean?”

Aku mengangguk hampa.

“Jadi dari dulu belum move on?”

Apa aku perlu mengangguk lagi? Kurasa diamku pun bisa menjawab.

“Kirain kamu udah move on dari SMA,” tambahnya yang bukan berarti masukan apa-apa.

“Kira-kira cewek kalo dikasih gini gimana?” aku mengulang pertanyaanku.

Gina terdiam sambil terus memandangi karikaturku. Dia menghela nafas.

“Tergantung.”

“Tergantung?”

“Iya. Tergantung. Kalo dianya suka ya seneng lah pasti. Kalo dia nggak suka jatuhnya risih,” jawab Gina sambil mengembalikan kertas-kertas itu.

“Terus aku harus gimana?”

“Kamu maunya gimana?”

Aku menahan diri dengan amat sangat untuk tidak menjitak cewek satu ini. Kenapa harus balik nanya sih. Justru aku kan bertanya untuk dapat jawaban.

“Kamu harus berani ambil resiko. Kalo kamu mau kasihin, kamu tau kan ada dua kemungkinan?”

Aku tidak menjawab. Aku malah terdiam dan membayangkan senyumnya. Kebahagiaanku melihat senyumnya. Dan ingin melihat senyumnya terus, di sampingnya. Aku tidak bisa membayangkan kami kembali menjauh, gara-gara tindakan bodohku, lagi.

“You already know your answer, mate.” Kata Gina lagi.

 ***

Mungkin kamu lelah denganku. Apa aku salah kalau aku hanya ingin mengulur waktu, agar bisa bersamamu lebih lama lagi?

Aku hanya berusaha menahan diri agar tidak menipu diri dengan halusinasiku sendiri. Aku berusaha menekan perasaanku, untuk menahanmu disini.

Aku benar-benar suka senyummu.

 ***

Pada hari aku tersadar, dan tahu-tahu aku sudah di depan rumah Sean.

“Hei, kok nggak bilang-bilang mau kesini?” Sean terlihat kaget melihatku yang muncul tanpa kabar.

“Sean, ini,” aku menyerahkan map yang berisi karikatur-karikaturku. Ini benar-benar usaha terakhir dari aku yang seharusnya aku lakukan dulu-dulu.

Dia mengambil map itu lambat-lambat, mengeluarkan isinya, dan melihatnya dalam diam.

Diam yang mencekam buatku.

Lalu dia mendongak menatap wajahku dan tersenyum, “Terima kasih.”

Dan aku tahu, senyumnya sudah berbeda dengan senyumnya tiga bulan lalu. Senyumnya bukan buatku.

“Sama-sama,” jawabku.

Lalu hening lagi. Sean menghela nafas dan melempar senyum yang agak pedih sekarang.

“Long last sama pacar baru kamu, ya,” kata-kata ini sudah kuulang berkali-kali, dan sudah kucari nada yang pas agar tidak terdengar terlalu pedih, tapi juga bukan nada yang berarti aku biasa-biasa saja, serta ada rasa senang yang tulus mengetahui Sean bahagia.

“Makasih,” Sean masih terus tersenyum.

“Ya udah, aku pulang dulu ya. Itu disimpen aja,” kataku sambil menunjuk mapku—sekarang mapnya.

Dia tidak menjawab, hanya mengangguk kecil, sambil mendekap map pemberianku.

Aku berjalan menjauh dari rumahnya. Darinya. Berusaha mengusir penyesalanku dalam-dalam.

 **

Sebuah café, tiga bulan yang lalu.

Senyumnya selalu membuatku jengah. Senyumnya bersinar, dan menghangatkan hatiku.

Aku selalu diam dalam senyum samar, mendengarkannya berceloteh dengan ceria. Aku menikmati setiap kata-katanya, yang kemudian akan kuulang-ulang seperti rekaman dalam kepalaku.

“Aku seneng kita bisa kayak gini lagi,” kata Sean ceria.


Jantungku berdegup keras, dan aku cuma bisa bilang, “Iya, ya.” Menelan kata-kata yang sudah di ujung lidahku, “Aku masih sayang sama kamu, dari dulu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar