Hari ini aku seperti tersadar, entah dari mimpi indah atau
buruk. Bukan, dari mendung yang aku buat sendiri. Dari prediksi tidak mungkin
yang aku rangkai sendiri.
Padahal kamu begitu jelas. Paling tidak waktu itu.
Apa sekarang terlambat? Enggak, kan? Kumohon.
***
“Kira-kira cewek kalo
dikasih gini gimana?” tanyaku pada Gina. Aku menyodorkan berlembar-lembar
karikatur wajah Sean. Agak miris dan menyedihkan, tapi aku sudah “mengumpulkan”
ini agak lama. Dan siapapun yang melihat gambar-gambar itu bisa mencermati progress
kemampuan menggambarku, menandakan rentang waktunya cukup panjang.
Gina yang dari tadi
agak acuh segera menyambar tumpukan gambar dan memeriksanya satu persatu.
Matanya membelalak.
“Gila. Sean?”
Aku mengangguk hampa.
“Jadi dari dulu belum
move on?”
Apa aku perlu
mengangguk lagi? Kurasa diamku pun bisa menjawab.
“Kirain kamu udah move
on dari SMA,” tambahnya yang bukan berarti masukan apa-apa.
“Kira-kira cewek kalo
dikasih gini gimana?” aku mengulang pertanyaanku.
Gina terdiam sambil
terus memandangi karikaturku. Dia menghela nafas.
“Tergantung.”
“Tergantung?”
“Iya. Tergantung. Kalo
dianya suka ya seneng lah pasti. Kalo dia nggak suka jatuhnya risih,” jawab
Gina sambil mengembalikan kertas-kertas itu.
“Terus aku harus
gimana?”
“Kamu maunya gimana?”
Aku menahan diri
dengan amat sangat untuk tidak menjitak cewek satu ini. Kenapa harus balik
nanya sih. Justru aku kan bertanya untuk dapat jawaban.
“Kamu harus berani
ambil resiko. Kalo kamu mau kasihin, kamu tau kan ada dua kemungkinan?”
Aku tidak menjawab.
Aku malah terdiam dan membayangkan senyumnya. Kebahagiaanku melihat senyumnya.
Dan ingin melihat senyumnya terus, di sampingnya. Aku tidak bisa membayangkan
kami kembali menjauh, gara-gara tindakan bodohku, lagi.
“You already know your
answer, mate.” Kata Gina lagi.
***
Mungkin kamu lelah denganku. Apa aku salah kalau aku hanya
ingin mengulur waktu, agar bisa bersamamu lebih lama lagi?
Aku hanya berusaha menahan diri agar tidak menipu diri
dengan halusinasiku sendiri. Aku berusaha menekan perasaanku, untuk menahanmu
disini.
Aku benar-benar suka senyummu.
***
Pada hari aku tersadar, dan tahu-tahu aku sudah di depan
rumah Sean.
“Hei, kok nggak bilang-bilang mau kesini?” Sean terlihat
kaget melihatku yang muncul tanpa kabar.
“Sean, ini,” aku menyerahkan map yang berisi
karikatur-karikaturku. Ini benar-benar usaha terakhir dari aku yang seharusnya
aku lakukan dulu-dulu.
Dia mengambil map itu lambat-lambat, mengeluarkan isinya,
dan melihatnya dalam diam.
Diam yang mencekam buatku.
Lalu dia mendongak menatap wajahku dan tersenyum, “Terima
kasih.”
Dan aku tahu, senyumnya sudah berbeda dengan senyumnya tiga
bulan lalu. Senyumnya bukan buatku.
“Sama-sama,” jawabku.
Lalu hening lagi. Sean menghela nafas dan melempar senyum
yang agak pedih sekarang.
“Long last sama pacar baru kamu, ya,” kata-kata ini sudah
kuulang berkali-kali, dan sudah kucari nada yang pas agar tidak terdengar
terlalu pedih, tapi juga bukan nada yang berarti aku biasa-biasa saja, serta
ada rasa senang yang tulus mengetahui Sean bahagia.
“Makasih,” Sean masih terus tersenyum.
“Ya udah, aku pulang dulu ya. Itu disimpen aja,” kataku
sambil menunjuk mapku—sekarang mapnya.
Dia tidak menjawab, hanya mengangguk kecil, sambil mendekap
map pemberianku.
Aku berjalan menjauh dari rumahnya. Darinya. Berusaha
mengusir penyesalanku dalam-dalam.
**
Sebuah café, tiga bulan yang lalu.
Senyumnya selalu
membuatku jengah. Senyumnya bersinar, dan menghangatkan hatiku.
Aku selalu diam dalam
senyum samar, mendengarkannya berceloteh dengan ceria. Aku menikmati setiap
kata-katanya, yang kemudian akan kuulang-ulang seperti rekaman dalam kepalaku.
“Aku seneng kita bisa
kayak gini lagi,” kata Sean ceria.
Jantungku berdegup
keras, dan aku cuma bisa bilang, “Iya, ya.” Menelan kata-kata yang sudah di
ujung lidahku, “Aku masih sayang sama kamu, dari dulu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar