“Aku udah nggak bisa suka kamu kayak dulu lagi.”
Dia menoleh.
Dia yang empat tahun belakangan mengisi tempat di sebelahku.
Dia yang selalu ada di setiap episode hariku. Dia ada di tempat yang selalu aku
lihat dan aku jamah.
Tempatku berbagi segalanya, termasuk waktuku dan perasaanku.
Kalau dulu setiap melihatnya, serasa dunia berhenti dan
bulan seakan tidak punya pilihan lain selain menyinari sosoknya. Lalu jantungku
berlomba-lomba mencari garis finish yang membentang di hatinya. Sekarang
semuanya sudah tidak sama.
Dulu aku mencari-carinya kalau tidak ada dia. Ujung mataku
selalu sigap menangkan siluetnya dan hatiku selalu siap menjadi radar
keberadaannya. Sekarang sudah tidak lagi.
Justru aneh.
Adanya dia di sisiku sudah sama wajarnya seperti aku bernafas.
Sudah selayaknya seperti matahari yang datang di setiap pagi. Adanya dia adalah
hal biasa yang tanpa aku sadar adalah elemen krusial pada setiap helai detikku.
“Aku suka sama kamu sampai mati rasa,” lanjutku, “Minggu
depan aku kenalin ke keluarga besar, yuk.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar