Sabtu, 19 Desember 2015

Sederhana

Kadang ada perasaan sederhana. Sederhana banget bahagianya, sederhana gara-gara hal kecil. Awalnya juga sederhana, malah mungkin gak sadar bagaimana awalnya.

Sesederhana sepatunya sebelahan di depan mushola. Sesederhana motornya sebelahan pas parkir.

Sesederhana hari ini bajumu matching sama dia. Sesederhana hari ini sama-sama pakai headset ke sekolah.

Sesederhana ngelihat motornya parkit di tempat yang dilewati.

Sesederhana mengulang-ulang percakapan singkat yang berarti “hai” di kepala.

Sesederhana dia ngelike statusmu.

Sesederhana kamu lihat motornya sambil mbatin “Oh, udah datang” atau sesederhana belum lihat dia lewat dan batin “Dasar, telat lagi”

Sesederhana dia iseng main gitar dan gak sengaja main lagu favoritmu.

Sesederhana pesen makanan sebelahan di kantin.

Sesederhana ngintipin dia main futsal dari kelas.

Sesederhana kedengeran tawanya waktu leat kelasmu.

Sesederhana waktu lewat daerah rumahnya.

Sesederhana lihat helm orang yang persis punyanya.

Sesederhana cuma lihat dari jauh aja seharian udah seneng banget.

Sederhana.

Kadang, karena terlalu bahagia oleh hal-hal kecil, kita nggak bisa dapat yang lebih. Too much happiness kills you.


Dan untuk sebagian besar kasus, mengakhiri perasaan sederhana ini gak sesederhana itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar