Sabtu, 19 Desember 2015

Unspoken Words

Alan’s side
Lagi-lagi aku disini. Diam. Bulannya sedang bagus sebetulnya, tapi pikiranku kemana-mana. Entah berapa lama aku diam sampai aku menoleh gara-gara mendengar gerakan di sebelahku.
“Disini juga?”
Dia Mei. Rambutnya acak-acakan setengah kering habis keramas, badannya dibalut hoodie super kebesaran, dan dia memeluk boneka panda yang sudah kucel. Boneka itu pemberianku. Dia perempuan kedua setelah mamaku yang tetap cantik walaupun dengan rambut berantakan begitu.
Aku cuma mengangguk menjawabnya. Rumah kami bersebelahan dan genteng kami bersambungan dan sama-sama bisa dipanjat dari balkon kamar kami masing-masing. Dulu hampir setiap hari kami duduk di atas genteng, biasanya sambil membawa kopi untuk melawan dingin.
“Mbak pengantin kok malem-malem keluar? Nggak persiapan nih?” godaku, sekaligus bertanya.
“Apa, sih. Besok masih lamaran, nggak usah cantik-cantik. Ntar sodaranya malah jatuh cinta ke aku,” jawab Mei sambil mengibaskan rambut.
Mataku tidak lepas memandang Mei, entah kenapa aku jadi ingat pertama kali aku melihatnya, saat MOS.
“Besok kamu dandan? Pake pita delapan gitu kayak jaman kita MOS SMA?”
Kamu dandan kayak orang gila gitu kamu tetep cantik, Mei. Kesan pertamaku dulu.
“Enggak kali, aku mau pake pita delapan kalau kamu botakin kepala juga.”
Mei, kamu ingat waktu pertama lihat aku, nggak?
“Sialan. Udah dua kali aja aku botak, MOS sama ospek.”
Hening sejenak, sepertinya kami larut dalam pikiran masing-masing. Kalau aku, jelas. Aku mengingat Mei waktu MOS dengan seragam SMP-nya, berpita delapan, dan tas karung goni. Semuanya masih jelas di ingatanku.
“Lama, ya, kita temenan…. Udah tujuh tahun lho, Mei.”
Dan dalam tujuh tahun ini aku jadi orang paling bodoh.
“Iya, gak kerasa, ya. Kayak barusan gitu kita kenalan gara-gara absennya urut.” Mata Mei menerawang ke langit, sepertinya dia mengingat-ingat kenangannya bersamaku.
“Terus ternyata besoknya kamu pindah jadi tetangga baruku.”
Kamu nggak tahu seberapa senengnya aku pas itu, Mei. Waktu pagi hari aku buka pagar, orang yang pertama kutemui kamu.
“Kamu seneng, kan? Ada temen curhat di sekolah dan di rumah, nonstop SMA isinya curhat melulu.”
Bukan, bukan gara-gara itu. Mei..
“Ih, kapan?” Aku mengernyitkan dahi.
“Dulu kan kamu suka sama si Wita, minta dicomblangin-lah, apa-lah.”
Padahal waktu itu aku mau lihat reaksimu, apa ada sedikit kemungkinan… Ternyata kamu malah semangat banget nyomblangin aku. Waktu itu aku sedih bukan gara-gara dia, tapi kamu.
“Kamu juga, selalu curhat, apa pamer ya, cowok-cowok yang deketin kamu.. Sampai aku gak hapal nama-namanya.”
Kamu cantik, Mei. Cantik. Nggak cuma aku yang ngerasa gitu, sayangnya.
“Lah, salahku? Kamu tuh gak laku-laku soalnya sama aku, sih. Kita kan dikira pacaran soalnya kemana-mana berdua.”
Itu masa-masaku paling bahagia, Mei. Aku kira kita bakal kayak gitu seterusnya. Aku kira kamu bakal di sampingku terus.
“Inget, nggak, yang waktu kuliah aku bawa kamu ke kampusku? Heboh semua temen-temenku ngajak cewek ke fakultas teknik.”
Waktu itu aku pengen nunjukin ke temen-temenku, aku punya kamu.
“Gara-gara itu, kan, aku ketemu Divo.”
Itu kesalahan terbesarku, Mei. Kenapa kamu ketemu Divo? Kenapa aku-lah yang ngenalin kamu ke Divo?
“Kamu harus terima kasih sama aku.” Pahit mengatakan ini.
“Iya,” jawaban Mei yang ini terasa sakit di dadaku.
“Masuk kuliah kita jadi agak jauh, ya.. apalagi KKN-nya jauh-jauh semua.”
Kamu berharap aku tetep deket sama kamu, sementara kamu mulai pacaran sama Divo, Mei? Aku cuma bisa diam. Mei…
“Pas udah dapet kerja malah deket lagi, soalnya sama-sama dapet kerja di dalam kota. Kan sampe kapan itu kita main ke SMA.”
Dan aku sadar kesalahan terbesarku bukannya ngenalin kamu ke Divo, tapi aku. Aku yang nggak pernah kasih tau kamu perasaanku. Aku ngajak kamu ke sekolah, tempat kita bertemu, tempat aku jatuh cinta sama kamu, dan berharap aku punya keberanian ngungkapinnya.
“Dan pak batagornya masih inget kita! Pengen deh main lagi seharian kayak pas itu.”
Senyum dan tawamu hari itu bikin aku kehilangan timing. Aku terlalu larut sama senyummu. Selama kita jauh sementara aku benar-benar kangen sama senyum dan tawamu. Bahagiaku, Mei, lihat senyummu.
“.. Terus Divo sampai jealous. Padahal kita kan emang dari dulu kayak gini.”
Ternyata kamu emang nganggep aku cuma kayak ‘gini’. Apa itu bikin kamu senyum, Mei?  Waktu itu sadar, semuanya udah berubah. Sekarang ada yang marah kalau kita main berdua. Kamu punya orang yang lebih kamu prioritaskan.
“Iya, ya.”
Udah terlalu jauh dan terlambat. Padahal aku punya tujuh tahun. Kadang aku membayangkan, andai kita nggak sekelas di SMA. Dan kamu bukan tetanggaku. Mungkin semuanya beda. Aku tetap akan jatuh cinta ke kamu dan berani mengatakannya, tanpa takut merusak pertemanan kita. Andai aku bukan teman dekatmu, akankah semuanya berbeda?
“Ini kita kok jadi nostalgia gini, sih?” tanyaku, lebih pada ke diri sendiri.
“Hahaha, kamu yang mulai,” ujar Mei sambil menoleh. Dia tersenyum.
“Kamu tidur sana, biar besok keliatan seger di depan keluarganya Divo,” kataku sambil mengacak-acak rambutnya bagian belakang.
“Tumben amat perhatian,” Mei menangkap tanganku. “Iya, kakak. Aku balik ke kamar dulu, ya.” Dia berdiri dari duduknya dan berjalan menjauh.”
“Mei..”
Mei, jangan pergi. Aku benar-benar nggak pengen besok datang. Aku sudah nggak bisa kemana-mana.
“Hmmm..?” Mei menoleh.
“Kamu cantik.” Suaraku tegas, bening, dan aku sendiri kaget mendengar suaraku.
Sejak aku melihatmu waktu MOS, aku suka sama kamu, Mei. Aku punya tujuh tahun, dan gara-gara kita terlalu dekat aku menyia-nyiakan tujuh tahunku. Bukan, aku yang pengecut, menyia-nyiakan tujuh tahun kita. Mei…
“Gak usah dandan aneh-aneh besok.” Lanjutku, masih bukan dalam suara normalku.
“Iya, iya. Selamat malam, Alan.”
Selamat malam, Mei. Sahabatku, cinta pertamaku.
“Kamu juga.”
Selamat tinggal.








Mei’s side.
Entah berapa kali aku menghela nafas, mencoba meyakinkan diriku sendiri. Aku mengacak-acak rambutku yang memang sudah berantakan dari tadi. Tidak membantu. Mungkin aku butuh udara segar.
Aku melangkah ke balkon kamarku dan memanjat turun ke genteng. Ternyata ada Alan.
“Disini juga?”
Alan menoleh. Entah kenapa, melihat wajahnya, mood-ku jadi lebih baik.
“Mbak pengantin kok malem-malem keluar? Nggak persiapan nih?” godanya. Tolong, aku mencari udara yang membebaskanku dari pikiran segala tetek bengek untuk besok.
“Apa, sih. Besok masih lamaran, nggak usah cantik-cantik. Ntar sodaranya malah jatuh cinta ke aku,” jawabku sambil mengibaskan rambut.
“Besok kamu dandan? Pake pita delapan gitu kayak jaman kita MOS SMA?”
Kok kamu ingat, Lan?
“Enggak kali, aku mau pake pita delapan kalau kamu botakin kepala juga,” kataku sambil menerawang.
Ya ampun Lan, aku masih inget mukamu waktu botak jadi konyol banget kayak Upin Ipin.
“Sialan. Udah dua kali aja aku botak, MOS sama ospek.”
Aku diam menahan ketawa, aku tahu topik ‘rambut’ merupakan topik yang agak sensitif buat dia. Dia cowok yang menganut ajaran “rambut adalah mahkota”, dan dia termasuk orang yang gonta-ganti gaya rambut mengikuti tren masa kini yang berhasil foto-foto aib untuk 5 tahun berikutnya.
“Lama, ya, kita temenan…. Udah tujuh tahun lho, Mei,” ujar Alan sambil menumpukan berat badannya pada telapak tangannya yang menempel di genteng.
“Iya, gak kerasa, ya. Kayak barusan gitu kita kenalan gara-gara absennya urut.”
Kerasa banget, Lan. Tujuh tahun aku bingung dan nunggu.
“Terus ternyata besoknya kamu pindah jadi tetangga baruku,” suara Alan terdengar senyumnya.
Aku kaget si Upin-Ipin keluar dari pagar sebelah rumah baruku.
“Kamu seneng, kan? Ada temen curhat di sekolah dan di rumah, nonstop SMA isinya curhat melulu.”
Suaraku kedengaran kecut nggak, ya, barusan?
“Ih, kapan?” seru Alan tidak terima.
Jangan sok lupa, Lan. Tega-teganya kamu lupa. Sampai detik ini aku gak lupa gimana rasanya.
“Dulu kan kamu suka sama si Wita, minta dicomblangin-lah, apa-lah,” aku berusaha keras menjaga nada suaraku.
Waktu itu aku kratak banget.Waktu itu aku sadar perasaanku, soalnya waktu kamu curhat aku langsung sesak napas. Untung aku punya bakat akting, jadi aku bisa nahan airmataku pas aku udah di kamar mandi rumah.
“Kamu juga, selalu curhat, apa pamer ya, cowok-cowok yang deketin kamu.. Sampai aku gak hapal nama-namanya.”
Alan…. Emang gara-gara siapa aku nolak mereka semua?
“Lah, salahku? Kamu tuh gak laku-laku soalnya sama aku, sih. Kita kan dikira pacaran soalnya kemana-mana berdua.”
Cuma dikira. Aku cuma bisa menebak-nebak kita mau kemana. Aku nggak berani tanya, maupun nunjukin. Kita terlalu dekat untuk fase itu.
“Inget, nggak, yang waktu kuliah aku bawa kamu ke kampusku? Heboh semua temen-temenku ngajak cewek ke fakultas teknik.”
“Gara-gara itu, kan, aku ketemu Divo,” kataku, setengah mengingatkanku ke diri sendiri.
Awalnya aku cuma ngetes reaksimu. Ternyata toh kamu dengan ringannya ngenalin aku ke dia, bantuin dia buat deket sama aku, dan sebagainya. Kratak super kedua. Suatu hari kamu harus tahu berapa box tissue yang aku habisin dan sakitnya tenggorokanku biar tangisanku gak kedengeran kamu.
“Kamu harus terima kasih sama aku.”
“Iya.”
Haruskah? Dia cuma datang di saat yang tepat, Lan.
“Masuk kuliah kita jadi agak jauh, ya.. apalagi KKN-nya jauh-jauh semua.”
Dan kamu semakin jauh, aku tanpa sadar jadi dekat sama Divo, kan. Kalau nggak ada kamu aku sama siapa lagi? Kamu sama Divo deket banget, tanpa sadar aku menemukan bayanganmu dalam Divo.
“Pas udah dapet kerja malah deket lagi, soalnya sama-sama dapet kerja di dalam kota. Kan sampe kapan itu kita main ke SMA.”
“Dan pak batagornya masih inget kita! Pengen deh main lagi seharian kayak pas itu.”
Aku juga! Hari itu kayak naik mesin waktu. Aku pengen balik ke jaman kita sekolah, waktu kita masih deket dan aku nggak begitu peduli kedekatan kita ke arah mana.
“.. Terus Divo sampai jealous. Padahal kita kan emang dari dulu kayak gini.”
Tapi aku langsung bangun hari itu. Aku sudah punya Divo.
“Iya, ya.”
Iya, ya apanya Lan? Lan, ini kesempatan terakhir. Bener-bener terakhir, deh. Kamu bener-bener nggak ada perasaan ke aku? Kalau kamu bilang sekarang, nggak pa-pa Lan, aku lepas semuanya. Saat ini, aku bakal mutusin keyakinanku soal lamaran besok. Lan, beri aku jawaban… tentang tujuh tahun kita. Alan..
“Ini kita kok jadi nostalgia gini, sih?” Alan memecah keheningan.
Lan..
“Hahaha, kamu yang mulai.”
Buat aku yakin, Lan..
“Kamu tidur sana, biar besok keliatan seger di depan keluarganya Divo.”
Game Over.
“Tumben amat perhatian. Iya, kakak. Aku balik ke kamar dulu, ya.” Aku beranjak berdiri, kalau bisa secepatnya. Tidak seharusnya aku begini, tapi dadaku sesak, tenggorokanku tercekat. Mataku juga sudah mulai terasa panas.
“Mei..” Suara Alan.
“Hmmm..?” Aku tidak berani menjawab, takut cekatku di tenggorokan terdengar.
“Kamu cantik.”
Lan, aku suka kamu.
“Gak usah dandan aneh-aneh besok.”
Alan, aku pernah suka kamu. Besok aku sudah nggak boleh suka kamu lagi.
“Iya, iya. Selamat malam, Alan.”
Selamat tinggal, Alan.
“Kamu juga.”
Aku berjalan, memanjat pagar balkonku, dan segera menutup pintu. Aku takut tangisku terdengar. Ini jalanku, jalan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar