Melangkah tidak akan pernah sama lagi buatku. Mungkin karena
sekarang aku melangkah tanpa tujuan. Atau karena tidak ada dia lagi yang
melangkah di sampingku. Atau tujuanku melangkah adalah berjalan di sampingnya.
Tapi percayalah, semuanya tidak akan pernah sama setelah dia pergi. Dari tempat
di sisiku.
Aku tidak berhenti di tempat. Aku terus melangkah. Hanya
saja tanpa arah. Mungkin akan lebih baik kalau aku berhenti di tempat. Paling
tidak aku bisa istirahat. Terus melangkah membuatku lelah. Tapi bagaimana aku
bisa diam. Dia disana.
Aku masih bisa melihatnya. Senyumnya, cemberutnya, marahnya.
Aku masih bisa mendengarnya. Tawanya, tangisnya, teriaknya. Aku masih bisa
merasakannya, di tanganku, di dadaku, di punggungku.
Rambutnya panjang dan lurus—kelewat lurus malah. Rambutnya
tidak bisa diikat saking lurusnya. Kadang-kadang kalau gerah terpaksa dijepit
seperti orang mau mandi. Tidak ada cara lain, katanya. Rambutnya halus, dan
berwarna jingga kalau diterpa sinar matahari. Rambutnya bergerak kanan-kiri
seiring langkahnya mengikutiku.
Aku hapal irama tubuhnya. Bagaimana dia berjalan, berlari,
berdiri. Semuanya.
Dan aku suka melihat matanya yang hitam legam, bercahaya.
Memantulkan bayangan laki-laki dengan alis tebal dan mata sipit, serta dagu
agak membelah. Laki-laki itu tersenyum, membalas senyumnya dalam matanya.
Lagi-lagi hari ini aku melihat rambutnya yang bergoyang
ceria dari kejauhan dan berwarna agak jingga.
Dia ada dimana-mana.
Atau aku yang tidak dimana-mana.
Kemanapun aku melangkah tanpa tujuan, dia ada.
Tapi tidak di sampingku.
Aku lelah melangkah
**
Lagi-lagi aku melangkah. Ada seseorang yang menyentuh
pundakku. Aku berbalik untuk melihat siapa pemilik tangan itu.
Wajah itu. Wajah yang aku ingat di alam bawah sadar. Alis
tebal dan mata sipit, dan dagu yang agak terbelah dua. Rambut cepak dan postur
kurus. Dan memakai kaos favoritku, kemeja biru muda.
Aku?
“Santi?”
Aku mengernyit.
Aku menoleh memandang cermin besar di sebelah laki-laki itu.
Perempuan berambut lurus—kelewat lurus, balik memandangku dengan wajah bingung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar