Sabtu, 19 Desember 2015

Disini Masih

“Lama banget, elah,” serunya tak sabar, bosan memainkan pemantik api yang dari tadi ia nyala-matikan dengan jari tengah dan jari manisnya. Rokoknya juga hampir habis dari tadi dia hirup.

Ai melirik dari balik kamera DSLR-nya. "Susah tahu kalo malem gini, Gelap, settingan-nya susah,“ sahutnya, yang tidak sepenuhnya benar.

Gadis itu menyibukkan diri lagi dengan kameranya. Padahal ia hanya ingin berlama-lama memandangi bayangan Ozi dalam layar kamera. Semuanya sama disana. Dia masih laki-laki yang tidak bisa dipisahkan dari rokok, dan kemana-mana mengenakan parka. Rambutnya berantakan dan agak panjang, tidak pernah benar-benar dipangkas dengan rapi, hanya bagian depannya diikat ke belakang seadanya agar tidak mengganggu mata si empunya.

Setidaknya semuanya sama dalam layar, dalam gambar. Ai rela menukar apa saja agar semua seperti yang seharusnya, yang sama saja seperti yang kemarin-kemarin, seperti yang tercermin dalam layar kamera.

"Ai..”

Sampai akhirnya Ai sadar, waktu pun sudah habis untuk diulur-ulur. Ai menekan tombol self-timer dan beranjak ke sisi Ozi. Ai memeluk lengan Ozi erat-erat dan menghirup aroma rokoknya sebanyak-banyaknya selagi bisa.

“Desember memang dingin, ya,” Ozi menghembuskan lagi asap dari rokok yang baru dia sedot. Ai tidak menjawab, hanya mengeratkan pelukannya pada lengan Ozi.

“Ai, lihat aku.”

Ai mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Ozi. Jaraknya dengan Ozi sangat dekat, bahkan lengannya aman dalam peluknya. Namun pancaran dalam mata Ozi membuatnya merasa jauh, dan ada rasa sakit yang tertahan dalam jarak tak kasat mata itu.

Ckrik! Bunyi kamera.

Mungkin sang kamera sekarang sedang tersenyum bangga, karena dengan suksesnya menangkap momen yang pas. Momen tersadar.

Ozi jelas-jelas bukan tipe orang yang bisa diletakkan dalam satu kalimat dengan pagi. Tapi sinar matanya hangat, seperti matahari yang mulai terbit dan melelehkan embun. Dulu.

“Ai, aku..”

“Iya, udah. Aku ngerti,” Ai mati-matian menahan airmatanya agar tidak jatuh dari pelupuknya. Dia mengendorkan pelukannya akan lengan Ozi.

Ozi menghela nafas, membuang rokoknya yang masih menyala dan menginjaknya agar mati.

Ai juga berharap perasaannya mati saat itu, semudah terinjak.

Laki-laki itu menatap Ai lurus dan tajam, dan memang pandangan matanya begitu, salah satu alasan Ai jatuh. Ozi mengacak-acak pelan rambut perempuan di depannya. Dalam satu gerakan dia merengkuh Ai dalam hangat peluknya.

Ai tetap kedinginan.

“Desember tahun lalu kayaknya nggak sedingin ini ya.”

Ai terkunci dalam pelukan Ozi. Mungkin Ozi berharap semuanya juga terkunci disini. Lalu ditinggalkan.

.

.

.

**


“Halo, Zi. Apa kabar? Kamu dimana? Disini masih Desember.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar