“Lama banget, elah,” serunya tak sabar, bosan memainkan
pemantik api yang dari tadi ia nyala-matikan dengan jari tengah dan jari
manisnya. Rokoknya juga hampir habis dari tadi dia hirup.
Ai melirik dari balik kamera DSLR-nya. "Susah tahu kalo
malem gini, Gelap, settingan-nya susah,“ sahutnya, yang tidak sepenuhnya benar.
Gadis itu menyibukkan diri lagi dengan kameranya. Padahal ia
hanya ingin berlama-lama memandangi bayangan Ozi dalam layar kamera. Semuanya
sama disana. Dia masih laki-laki yang tidak bisa dipisahkan dari rokok, dan
kemana-mana mengenakan parka. Rambutnya berantakan dan agak panjang, tidak
pernah benar-benar dipangkas dengan rapi, hanya bagian depannya diikat ke
belakang seadanya agar tidak mengganggu mata si empunya.
Setidaknya semuanya sama dalam layar, dalam gambar. Ai rela
menukar apa saja agar semua seperti yang seharusnya, yang sama saja seperti
yang kemarin-kemarin, seperti yang tercermin dalam layar kamera.
"Ai..”
Sampai akhirnya Ai sadar, waktu pun sudah habis untuk
diulur-ulur. Ai menekan tombol self-timer dan beranjak ke sisi Ozi. Ai memeluk
lengan Ozi erat-erat dan menghirup aroma rokoknya sebanyak-banyaknya selagi
bisa.
“Desember memang dingin, ya,” Ozi menghembuskan lagi asap
dari rokok yang baru dia sedot. Ai tidak menjawab, hanya mengeratkan pelukannya
pada lengan Ozi.
“Ai, lihat aku.”
Ai mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Ozi. Jaraknya
dengan Ozi sangat dekat, bahkan lengannya aman dalam peluknya. Namun pancaran
dalam mata Ozi membuatnya merasa jauh, dan ada rasa sakit yang tertahan dalam
jarak tak kasat mata itu.
Ckrik! Bunyi kamera.
Mungkin sang kamera sekarang sedang tersenyum bangga, karena
dengan suksesnya menangkap momen yang pas. Momen tersadar.
Ozi jelas-jelas bukan tipe orang yang bisa diletakkan dalam
satu kalimat dengan pagi. Tapi sinar matanya hangat, seperti matahari yang
mulai terbit dan melelehkan embun. Dulu.
“Ai, aku..”
“Iya, udah. Aku ngerti,” Ai mati-matian menahan airmatanya
agar tidak jatuh dari pelupuknya. Dia mengendorkan pelukannya akan lengan Ozi.
Ozi menghela nafas, membuang rokoknya yang masih menyala dan
menginjaknya agar mati.
Ai juga berharap perasaannya mati saat itu, semudah
terinjak.
Laki-laki itu menatap Ai lurus dan tajam, dan memang
pandangan matanya begitu, salah satu alasan Ai jatuh. Ozi mengacak-acak pelan
rambut perempuan di depannya. Dalam satu gerakan dia merengkuh Ai dalam hangat
peluknya.
Ai tetap kedinginan.
“Desember tahun lalu kayaknya nggak sedingin ini ya.”
Ai terkunci dalam pelukan Ozi. Mungkin Ozi berharap semuanya
juga terkunci disini. Lalu ditinggalkan.
.
.
.
**
“Halo, Zi. Apa kabar? Kamu dimana? Disini masih Desember.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar