Aku mencuci jaketmu malam-malam. Entah kenapa tiba-tiba
berdiri beranjak mengambil jaketmu yang selalu ada di atas tempat tidurku.
Aku memutar kran agar mengalir keras-keras. Agar semakin
cepat ini berakhir. Bunyi air yang mulai menggenang mengingatkanku pada hujan
senja itu.
Aku memeluk jaketmu erat, menciumnya untuk terakhir kalinya
mengingat aromamu yang menempel.
Lalu jatuh.
Dalam air.
Dan tenggelam.
Mesin cuci mulai berputar. Ingatanku ikut berputar.
Tentang kamu yang memutar balikkan duniaku. Tentang kamu
yang membuatku bahagia sekaligus takut dalam waktu yang bersamaan.
Aku takut jatuh.
Tapi pada kenyataannya aku jatuh dan terputar seperti jaketmu.
Semuanya manis dan membuat was-was. Seperti mimpi musim
panas, semuanya sementara.
Jaketmu sudah kering dalam mesin pengering. Sudah tidak ada
aromamu, sudah tidak ada kita, yang memang tidak pernah ada.
Besok, aku siap mengembalikan jaketmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar