You just need to stop
sometimes
Turning your back
seeing your shadow left
Just so you know that
I’ll always be there
You just need
sometimes
SometimesLagu surgaku. Kenyataan yang sekarang seperti neraka, atau di antaranya. Semuanya seperti berjalan, berputar, bergerak, tanpa mengikutkan aku di dalamnya. Aku seperti tidak disini.
Kehidupan bernafas. Aku tertinggal. Bukan oksigen, bukan karbondioksida, hanya tidak ada udara yang bisa ku hela. Hidup meninggalkanku yang diam dan terpaksa terseret, terseok-seok. Sakit semua, memang.
Lalu aku ingat, aku punya surga.
Surga candu, seperti narkotika.
Lagu kita.
Aku selalu menyukainya dan musiknya. Yang mereka lihat hanyalah sebagian kecil dari seluruhnya. Aku melihatnya dari awal, dari dekat, nyaris tanpa jarak.
Aku masih ingat hari itu, saat dia memberiku pemutar musik yang berisi lagu kita.
“Lagu ini single yang bakal keluar habis ini. Ini tentang kita.”
Dia sendiri bilang begitu. Walau pada akhirnya berjuta orang mendengarnya, kita pemiliknya. Lalu aku akan tersenyum meremehkan bila ada orang yang menyanyikannya di sekitarku. Itu rahasia besar, antara sesama pemilik lagu itu. Itu lagu kita.
Lagu kita.
Satu-satunya cara aku bertahan. Aku memegang erat lagu itu, satu-satunya penghilang rasa sakitku, yang memberi efek candu. Setelah lagu itu berakhir, aku akan kembali pada kenyataan lagi. Dimana semua sakit, walau pun hanya menggerakkan jari saja sakit.
“You just need to stop sometimes”
Aku menoleh, aku mendengar lagu surgaku dari kenyataan. Arahnya dari televisi.
Dan itu dia. Menyanyikan lagu kita bersama bidadari di sebelahmu.
“Ini lagu kita dulu awal pacaran.” Katanya padaku, dari monitor televisi, pada siapapun yang melihatnya. Jari telunjuknya mengarah ke bidadari di sebelahnya. Kemudian mereka berdua bertukar pandang, lalu tersenyum satu sama lain.
Dan disini, aku, manusia. Memandang kahyangan lewat layar kaca. Mendengar kata-kata yang menabrakkan kenyataan dan masa lalu. Dan pecah, jadi pasir debu.
Senyumku meremehkan. Tahu apa dia, ini kan lagu kita. Lalu aku kembali dalam canduku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar