Sabtu, 19 Desember 2015

Unfinished

Sudah lama dia memandanginya seperti itu.

Ralat – dia selalu memandanginya seperti itu. Tatapannya selalu sama, setidaknya selama dalam ingatan Wina, sejak dia masuk dalam ruang tatapannya, dia selalu balik memandangnya dengan tatapan itu, dalam, tidak bisa dimengerti, mengundang ingin tahu (mungkin hanya bagi Wina).

Sebetulnya ada jangka waktu dimana tatapannya tidak seperti itu, bahkan menghilang sama sekali. Padahal tatapan itu adalah identitas dia di mata Wina, gadis itu memutuskan dia tidak mengenalnya. Dan menghilangnya tatapan itu adalah alasan kepergian mereka berdua sampai jauh.

Tidak, tidak benar-benar jauh. Dia selalu berada di dekat gadis itu, baik sengaja atau pun tidak, dan dengan angkuhnya menamparkan kenyataan dia baik-baik saja walaupun posisi gadis itu sudah berpindah pemilik.

Tapi tatapannya kembali lagi, dan tidak satu pun berubah.

Tatapan yang mengingatkan luka yang mati rasa di dalam, atau lebih tepatnya terpaksa dan dipaksa dijejalkan di dalam.

Wina bersumpah dia benar-benar berharap Ozi berhenti memandanginya seperti itu. Karena saat Ozi memandangnya waktu seakan berhenti padahal dia hanya lewat sekilas.

“Hai,” sapa Ozi dari jauh. Wina hanya mengangguk sebagai tanda balas sapaan laki-laki itu, sementara Ozi lalu.

“Gitu amat ngeliatinnya,” bisik Gigi yang dari tadi duduk bersamanya di bangku luar kelas. Mata Wina serta Gigi mengikuti sosok Ozi yang berjalan menaiki tangga ke lantai dua.

“Biasa aja deh kayaknya,” jawab Wina, lebih pada ke dirinya sendiri, acuh sambil melempar pandangannya.

Gigi merengut tak percaya. Kebiasaan sok analitisnya keluar. Dia menempelkan telunjuk dan jempol di dagunya, menegaskan bahwa dia sedang berpikir (padahal tidak ada hubungannya juga sebetulnya antara dagu dan otak).

“Kayaknya dia belum move on, deh, dari kamu, Win.” Hasil kesimpulan sang Gigi.

Wina sejenak memejamkan matanya, walau sedetik saja ia ingin mengamini pernyataan dugaan itu dalam hati, yang juga sekaligus dugaannya. Karena detik berikutnya dia harus kembali pada kenyataan yang menyesak lukanya yang dia paksa mati rasa.

“Lah. Ga mungkin lah, Gi. Kalo gitu Ai apaan dong,” telak Wina, meneriakkan nama pacar mantannya itu berkali-kali dalam hati. Nama yang mematahkan segala hipotesa tatapan Ozi yang menurut Wina tidak berubah.

Yang belum move on kan aku, Gi.

Kata orang, you are still obsessed with relationship that feels unfinished. Iya, dia merasa semuanya belum usai. Sehabis ini akan ada cerita lagi yang pemeran utamanya Wina dan Ozi. Wina tidak tahu apakah ceritanya akan happy ending atau sad ending. Yang jelas, the ending hasn’t happened yet.

Padahal hubungannya dengan Ozi sudah berakhir dua tahun yang lalu. Tapi Wina masih merasa unfinished.

Dan Wina benar-benar berharap dia tidak berhalusinasi apa pun untuk mencari justifikasi dari perasaan unfinished itu. Dia berusaha memisahkan antara harapan yang penuh desperasi atau feeling yang bekerja dengan baik.

Wina melirik ke arah Ozi yang sedang merokok di balkon lantai dua.

Ozi masih tetap memandangnya seperti tadi.

Seperti dulu.


Ozi,..



kamu nggak perlu membuat aku semenyedihkan ini, kan?

5 komentar:

  1. Ozi emang ga pengen ada akhir diantaranya dengan wina ?
    Kamu tau, seperti baju kekecilan yg entah kenapa slalu terlipat di lemari, gak kepake, berharap ada model baju yg sama cuma dengan ukuran yg lebih pas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau analoginya baju, Wina buat Ozi adalah baju hadiah dari seseorang yang berharga. walau udah lama dan nggak dipakai-pakai lagi, baju itu punya kenangan. Alpat punya nggak baju kayak gitu? Kalau aku, kaos kelas yang kembaran rame-rame aja gak berani buang, padahal gak pernah dipakai.

      Hapus
  2. Punya punya, udah kekecilan banget, tapi tiap mama mau buang atau kasih ke orang, aku larang. Emang udah gak barengan tapi masih sayang sama kenanganya ya yes?

    BalasHapus
  3. Punya punya, udah kekecilan banget, tapi tiap mama mau buang atau kasih ke orang, aku larang. Emang udah gak barengan tapi masih sayang sama kenanganya ya yes?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan cuma kenangan yang ga berubah meskipun keadaan berubah Pat. Eh kalo gitu harusnya bajunya gausah disimpen dong ya?

      Hapus