Ceritamu banyak kosongnya.
Kamu kokoh batu karang baginya. Kokoh, keras, kasar, geming.
Kamu hanya bercerita betapa kasar dan kerasnya kamu. Dia hanya melihat kasat
dan diamnya kamu.
Kamu lautan berombak baginya. Ombakmu besar dan selalu
dahsyat. Tapi dia tahu, kamu dalam. Meskipun dia tidak tahu seberapa dalamnya
kamu. Dia hanya tahu kamu biru pekat.
Kamu angin topan. Riuh, ribut, menolak. Tapi dia tahu kamu
tenang di intimu.
Ceritamu banyak kosongnya.
Dia berusaha sendiri mengisi ceritamu, pada setiap episode
yang kosong. Dia mencari untuk pertanyaan pada ombak. Dia mencari untuk alasan
kenapa ombak terus menerpa karangmu. Dia ingin bertanya pada ombak seberapa
keras ombak menghantammu.
Dia berlari, berharap menemukan dasar dan bertanya padanya
seberapa dalammu. Dia berlari, memutarimu, berkali-kali. Berharap menemukan
sudut cerita yang terlewatkan. Memastikan tidak ada satu sisi pun yang
terlewat.
Ceritamu banyak kosongnya.
Kosongnya ceritamu merambat ke hatinya, yang baru dia sadari
setelah harinya yang biasa penuh cerita berubah secara eksesif. Karena dia
merasakan bahwa senyummu mendendangkan elegi, elegi alasan kekosongan ceritamu.
Dia berlari lagi, kesana-kemari. Membuat cerita sendiri di
hadapanmu. Berusaha membuat cerita yang bias padamu. Dia kira cerita itu
untukmu, tapi bukan. Semuanya adalah untuk dirinya sendiri, yang tertular
kosong. Untuk menghibur dan mengisi dirinya sendiri.
Dia lelah, dia berlari sendirian. Mungkin sekarang dia
berlari, masih mencari ombak, masih mengejar dasar. Dia juga berlari darimu,
namun terlambat.
Karena jarakmu hanya satu degupan jantung dari hatinya.
Karena diammu adalah topan baginya. Keberadaanmu menariknya
berputar mengelilingimu tanpa mengijinkannya berhenti di intimu.
Kamu hanya duduk disana, dan tersenyum kecil menonton
langkah-langkah naifnya. Sesekali tertawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar