Sabtu, 19 Desember 2015

Nonchalantly Devastating

Ceritamu banyak kosongnya.

Kamu kokoh batu karang baginya. Kokoh, keras, kasar, geming. Kamu hanya bercerita betapa kasar dan kerasnya kamu. Dia hanya melihat kasat dan diamnya kamu.

Kamu lautan berombak baginya. Ombakmu besar dan selalu dahsyat. Tapi dia tahu, kamu dalam. Meskipun dia tidak tahu seberapa dalamnya kamu. Dia hanya tahu kamu biru pekat.

Kamu angin topan. Riuh, ribut, menolak. Tapi dia tahu kamu tenang di intimu.

Ceritamu banyak kosongnya.

Dia berusaha sendiri mengisi ceritamu, pada setiap episode yang kosong. Dia mencari untuk pertanyaan pada ombak. Dia mencari untuk alasan kenapa ombak terus menerpa karangmu. Dia ingin bertanya pada ombak seberapa keras ombak menghantammu.

Dia berlari, berharap menemukan dasar dan bertanya padanya seberapa dalammu. Dia berlari, memutarimu, berkali-kali. Berharap menemukan sudut cerita yang terlewatkan. Memastikan tidak ada satu sisi pun yang terlewat.

Ceritamu banyak kosongnya.

Kosongnya ceritamu merambat ke hatinya, yang baru dia sadari setelah harinya yang biasa penuh cerita berubah secara eksesif. Karena dia merasakan bahwa senyummu mendendangkan elegi, elegi alasan kekosongan ceritamu.

Dia berlari lagi, kesana-kemari. Membuat cerita sendiri di hadapanmu. Berusaha membuat cerita yang bias padamu. Dia kira cerita itu untukmu, tapi bukan. Semuanya adalah untuk dirinya sendiri, yang tertular kosong. Untuk menghibur dan mengisi dirinya sendiri.

Dia lelah, dia berlari sendirian. Mungkin sekarang dia berlari, masih mencari ombak, masih mengejar dasar. Dia juga berlari darimu, namun terlambat.

Karena jarakmu hanya satu degupan jantung dari hatinya.

Karena diammu adalah topan baginya. Keberadaanmu menariknya berputar mengelilingimu tanpa mengijinkannya berhenti di intimu.


Kamu hanya duduk disana, dan tersenyum kecil menonton langkah-langkah naifnya. Sesekali tertawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar