Jumat, 13 Januari 2017

Dosa

Ini cerita tentang seorang anak kecil yang suka datang ke toko mainan di dekat rumahnya. Dia bukannya ingin membeli mainan yang dijual disitu. Dia datang untuk melihat boneka punya anak pemilik toko itu.

Bonekanya lucu, menurut anak kecil itu.

Bukan boneka bayi perempuan yang dikepang dua dengan bulu mata lentik dan pipi merona, bukan.
Bonekanya berbentuk polar bear. Putih bersih. Terlihat empuk untuk dipeluk. Terlihat. Hanya terlihat, karena anak itu hanya bisa melihatnya.

Tapi bukan itu yang membuatnya suka memandangi boneka itu.

Mata boneka itu hanya lingkaran hitam, tanpa ekspresi.
Anehnya, hitam matanya memberikan cerita untuk anak itu.

Saat si anak kecil tengah kabur dari omelan mamanya karena tidak mau tidur siang, hitam matanya mendongengkan kisah yang membuatnya rindu tidur dalam pelukan mama.
Saat si anak kecil sedang senang selepas diberi permen oleh pamannya, hitam matanya memberikan sendu bahwa tidak semua orang bisa merasakan manisnya permen.
Saat si anak kecil sedih kelincinya mati kedinginan, hitam matanya memberikan kehangatan bahwa sang kelinci tertidur lelap.

Lalu pada suatu Rabu si anak kecil mendapati boneka itu sendirian, tidak ada yang punya.

Ada, tapi sedang tidak disana.

Anak kecil itu tanpa pikir panjang mengambil boneka itu dan berlari.

"Pinjam untuk hari ini saja," pikirnya.

Lalu dia bermain dengannya, dengan boneka itu.

Akhirnya si anak kecil merasakan lembutnya bulu sang boneka.
Akhirnya si anak kecil memeluk empuknya sang boneka.
Akhirnya si anak kecil menyentuh hitam mata sang boneka.

Yang si anak kecil itu lupa, badannya hitam. Tidak seperti sang boneka yang putih bersih.
Bonekanya ternoda badannya.

Ternyata dosa tidak bisa dibatasi waktu; sehari saja. Ternyata dosa membekas sampai terkuak.

Lalu yang punya boneka menangis, karena boneka miliknya sudah tidak lagi sama.
Lalu toko mainan itu tidak pernah buka lagi untuk si anak kecil itu.
Untuk hanya memandangi sang boneka saja tidak bisa dia tidak bisa kembali.

Satu hari dosa juga tidak bisa kembali.

Si anak kecil menangis pun tidak berhak.
Tapi dia menangis.
Karena dia anak kecil.
Mungkin tidak.

Kini dia hanya bisa membayangkan hitam mata sang boneka, yang dia tahu pasti membisikkan ketenangan palsu, "Bukan salahmu."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar