Sabtu, 19 Desember 2015

Through

“Mungkin kamu nggak sadar, pertama kali kamu datang ke sini, aku sudah melihatmu.

Aku masih mengingat jelas. Waktu kamu membuka pintu kaca itu dan denting bel pintu bersuara. Rambutmu yang berwarna oranye terkena sinar matahari berayun melawan langkahmu yang cepat.

Kamu langsung menuju tempat yang kosong, dimana aku bisa melihatmu dengan jelas. Kamu datang sendirian Mungkin kamu tidak berniat sendirian. Kamu menunggu seseorang kan? Aku tahu kamu mati-matian menahan diri melihat arloji putihmu.

Tapi matamu tidak lepas dari jendela.

Orang yang kamu tunggu tidak datang hari itu. Bahkan sampai kopi ketigamu habis. Sampai jam buka juga habis.

Aku masih ingat raut mukamu yang tetap datar, berusaha menyembunyikan kekecewaanmu. Mukamu selalu datar tapi aku tahu.

Kamu pun pulang hari itu, kukira kamu berhenti sampai disitu. Kamu nggak tahu kan girangnya aku kamu datang lagi?

Kamu menunggunya lagi, lagi-lagi matamu tidak lepas dari jendela. Matamu berwarna cokelat terang, terkena sinar matahari dari jendela. Kamu memakai arloji putih lagi, yang tidak kamu lirik lagi. Kali ini empat gelas kopi, dia tetap tidak datang
Kukira kamu menyerah, ternyata toh tidak.
Kamu datang lagi!
Sepertinya aku harus berterima kasih kepadanya yang membuatmu menunggu. Disertai rasa bersalah, aku tidak ingin melihatmu sedih. Aku ingin melihat senyummu yang memecah wajah tanpa ekspresimu.

Hari itu kamu pakai pita warna cokelat. Mungkin matamu sudah capek menatap jendela lekat-lekat, kamu mengambil salah satu buku dari rak buku yang disediakan.

Ini kesempatanku, kan.

Kamu sama sekali tidak terlihat kaget melihatku yang tiba-tiba di depanmu, kamu bisa menjaga wajahmu tetap datar. Tapi aku tahu, kamu cukup kaget. Kamu tidak membalas senyumku. Kamu menoleh ke jendela lagi, agar tidak melihatku.
Aku juga melihat jendela, aku tidak bisa melihat apa-apa kecuali bayangan tipismu di jendela.
Bayanganku tidak ada di jendelamu.
Besoknya masih. Kamu tetap tidak tersenyum. Masih menatap jendela. Dan aku masih menatapmu.

Dan aku ingat pertama kali kamu menawariku french friesmu. Mungkin itu kamu pertama kalinya melihatku. Ekspresimu berubah sedikit, alismu naik satu saat aku menggeleng. Kamu tetap tidak membalas senyumku.

Setiap hari ada peningkatan, kamu berganti-gantian menatap jendela dan aku. Aku masih ingat ekspresimu saat aku meminta arlojimu. Mungkin kamu mengira aku cuma meminjamnya untuk melihatnya. Kamu nggak mengira, kan, aku menyimpannya di dalam sakuku sendiri?
Kamu kaget. Dan kamu tahu kan arloji itu nggak ada gunanya. Kamu mulai melihatku sekarang.
Mungkin kamu menungguku capek tersenyum.
Seperti aku menunggumu capek menyembunyikan senyummu.

Setiap ada gerakan besar atau ada yang mendekat di jendela kamu menoleh. Itu yang tidak berubah. Kamu masih menunggunya, di luar sadarmu. Aku tersenyum, aku tahu.

Aku kira suatu hari akan ada titik dimana kamu datang untukku.
Jadi aku tutup tirai jendelanya.
Supaya kamu tidak bisa melihat keluar. Gelap, tapi kamu bisa melihatku dengan lebih jelas
Dan melihat senyumku yang memudar.
Duniaku terang waktu itu, berbeda dengan jendela yang tertutup.
Kamu tersenyum.
Akhirnya aku melihat senyummu!
Penantian yang cukup panjang yang mengorbankan senyumku, yang mungkin hilang selamanya.
Yang hilang bersama penantianmu.

Dia datang. Kamu tidak butuh jendela lagi, kamu menemukannya. Dan aku kehilangan sekarang.

Penantianmu usai dan berhasil, tapi tidak dengan penantianku. Mungkin aku yang serakah, karena dari awal aku cuma menunggu senyummu.

Lalu aku hilang. Bukan hilang. Toh, aku memang tidak pernah ada. Kamu yang membuatku tidak pernah ada. Aku tidak mengeluh.

Kamu adalah seluruh isiku sementara aku hanya selingan di waktu senggangmu. Kamu yang membuatku tidak pernah ada. Aku tidak mengeluh.”

Dadaku sesak membaca buku yang selama ini aku pegang, tapi tidak pernah benar-benar aku baca.

"Sejak kapan..?”

“Kenapa, yang?” tanya Davin yang berhenti menyeruput americano-nya melihatku terkejut.

Aku hanya diam, dan mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi selama ini. Aku membalik buku bersampul biru tua itu sampai di halaman terakhirnya dan menemukan foto penulis. Aku kenal sekali dengan pemilik wajah ini, tapi aku tidak ingat awal dan akhir kenanganku bersamanya.

Aku segera bangkit dari dudukku menuju meja kasir.

“Mbak, buku-buku disini punya siapa, ya?” tanyaku sambil mengacungkan buku yang dari tadi aku pegang.

“Oh, punya pemilik cafe ini, mbak. Tapi bukunya majalah semua kok, nggak ada buku kayak gitu,” jawab pelayan cafe itu sambil tersenyum ramah.

Aku mengernyitkan dahi.

“Mungkin punya siapa yang tertinggal disini,” Pelayan cafe yang super ramah mencoba menemukan jawaban untukku.

Bukan, kataku dalam hati. Aku hampir berbalik kembali ke mejaku sebelum bertanya, “Oh iya mbak selama ini kan saya sering kesini, tahu nggak yang biasanya sama saya?”

Gantian pelayan itu yang mengernyitkan dahi, “Selama ini mbak kan sendirian, atau sama cowok yang disana. Cowoknya kan mbak? Cocok deh.”

“Masa’ sih mbak? Kalo cowok yang di foto ini?” tanyaku sambil menunjukkan foto di halaman paling akhir buku itu.

Pelayan cafe mendekatkan kepalanya untuk memperhatikan foto itu baik-baik. Dia menelengkan kepalanya, “Kayaknya sih belum pernah lihat.”

Aku membalikkan badanku tanpa mampu mengucapkan apa-apa. Aku memejamkan mataku dan menemukan ada secuil relung hatiku yang hilang, hampa. Sesuatu yang dibuat tidak pernah ada.


-Ayesha. September 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar