Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Dia menghela nafas
panjang. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Pasti dia akan menggaruk-garuk
belakang kepalanya, membuat rambut ash-nya berantakan. Enam hitungan lagi dia
akan mengerjapkan matanya. Aku tersenyum. Kebiasaannya tidak berubah. Lalu dia
akan menunduk, mungkin menyesali diri, mungkin malu, lagi dan lagi. Tidak
terlihat dari sini, dari sisi jendela perpustakaan.
Teman-temanku mengira aku super kutu buku, yang menghabiskan
jam pelajaran di perpustakaan. Padahal ini alasanku untuk pergi dari mereka.
Entah siapa yang salah, aku atau mereka, tapi aku selalu sesak mendengarkan
cerita mereka, yang tidak benar-benar bercerita tentang mereka, tapi orang
lain. Aku sering heran bagaimana mereka bisa mendapatkan cerita-cerita itu
dengan sebegitu yakinnya, padahal mungkin mereka sendiri tidak yakin dengan
cerita mereka. Mereka baik kok, sangat baik malah, mau berteman denganku, kami
melakukan banyak hal bersama-sama kecuali itu tadi. Dan pada istirahat sekolah
tidak banyak yang bisa dilakukan, selain bercerita.
Maka aku lari kesini, dan menemukannya. Dia selalu duduk di
bangku belakang lapangan tenis, yang tepat di seberang perpustakaan. Lantai
perpustakaan lebih tinggi setengah lantai, aku memandangnya dengan cukup jelas
dari jendela. Dia selalu ada disana. Kadang sendirian, kadang ramai bersama
teman-temannya, yang ribut mengajaknya beranjak dari tempat itu. Mungkin dia
sama sepertiku, mencari-cari alasan. Mungkin tidak. Kadang-kadang memang
temannya ingin menemaninya, duduk bersama dia disitu. Tapi dia lebih sering
sendiri. Dia biasanya memakai earphone berwarna hijau mint, lalu duduk diam.
Kadang dia hanya duduk sambil setengah tertidur, membiarkan rambutnya yang
berwarna ash dan agak gondrong tertiup angin sepoi. Kadang dia seperti
memperhatikan seseorang, seperti salah tingkah, lalu seperti memutuskan diam
saja. Ya, seperti. Karena aku tidak akan tahu apa yang sebenarnya dia lakukan.
Aku cuma memperhatikannya dalam diam.
Badannya agak kurus, namun sepertinya lengannya cukup kekar,
aku tidak tahu. Kemeja seragamnya sedikit kebesaran dan tidak pernah rapi
dimasukkan dalam celana. Kancing di pergelangan tangannya juga tidak pernah
dikancing. Kancing lehernya dibiarkan terbuka, sehingga kaos yang dia pakai di
dalam seragamnya terlihat, biasanya warna coklat yang senada dengan rambut
ash-nya. Dia selalu memakai kalung hitam yang dia sembunyikan di balik kerah,
gagal jelas, karena aku bisa melihatnya. Sepatunya berwarna putih dan cukup
bersih untuk ukuran laki-laki. Suaranya mungkin cukup merdu, aku tidak pernah
benar-benar mendengarnya, dia sering ikut bernyanyi lirih ketika mengenakan
earphone-nya. Mungkin dia pemain biola? Karena dia tidak pernah menggerakkan
tangannya ke atas-bawah saat mendengarkan musik seperti menggenjreng gitar,
melainkan menggenggam tangan nya dan menggoyangkannya ke kanan-kiri.
Kadang dia membawa kejutan, dia pernah membawa gelembung
sabun yang ia tiupkan sampai gelembungnya menyentuh dan pecah di kaca jendela
tempat aku memandangnya. Dia juga pernah membawa pistol air, mengerjai setiap
temannya yang lewat situ dan berakhir dengan dia disiram ramai-ramai. Dia juga
pernah membawa kartu sulap, mempraktekkannya ke setiap temannya yang lewat juga
sampai aku hafal triknya.
Aku tahu kenapa dia temannya banyak. Dia murah senyum. Dia
selalu tersenyum kecuali dia sendirian. Saat dia tersenyum lesung pipit yang
cuma sebelah kanan terlihat dan matanya berbentuk garis melengkung. Matanya
agak turun ke bawah, dia terlihat seperti anak anjing kalau sedang tersenyum.
Kalau temannya lewat dia menyapa dengan senyum, lalu senyumnya hilang enam
detik setelah temannya berlalu.
Hari ini aku masih duduk di perpustakaan di sisi jendela
yang menghadap belakang lapangan tenis. Dan memperhatikannya. Akhir-akhir ini
dia lebih sering diam, tidak banyak tingkah. Sudah jarang memberi kejutan. Tapi
melihatnya diam sambil setengah tertidur saja sudah menarik. Setiap hari adalah
kejutan, aku menghabiskan satu hari lagi untung memandanginya. Aku memandangnya
sambil memangku daguku. Dia masih diam, matanya memandang lurus dan kosong,
tapi teduh. Kalau dia tersenyum sinar matanya hangat, tapi kalau sedang diam
seperti ini matanya teduh.
Kenapa diam?
Bisikku dalam hati.
Aku mendekatkan kepalaku ke arah jendela dan menekankan
telunjukku permukaan kaca jendela, tepat di bayangan wajahnya.
Dia menghela nafas. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Dia
mengacak rambutnya. Pasti dia akan mengerjapkan matanya.
Tapi saat itu dia mendongak ke atas. Matanya lurus menatap
mataku. Satu. Du..
Hitunganku tidak bisa sampai ke dua. Matanya benar-benar
lurus dan tajam ke mataku.
Aku terpaku.
Aku tidak merasakan jantungku berdebar lebih kencang atau
semacamnya, justru.. tenang. Sekelilingku seakan berwarna putih, kecuali dia,
dan rambutnya yang berwarna ash terang yang ditimpa sinar matahari, dan
earphone hijau mint-nya.
Sudah kuduga, matanya teduh. Alisnya tebal dan lurus.
Matanya cokelat. Teduh. Dan lama-lama menghangat.
Dia tersenyum ke arahku.
Aku membalas senyumnya.
Kami berdua sama-sama tahu. Dalam diam. Terasa seperti
selamanya, yang bahkan aku tidak berkedip. Kami berbicara lewat senyum, dan
mata. Matanya yang cokelat.
**
Sejak hari itu aku tidak pernah melihatnya lagi.
Dan disinilah aku, duduk di perpustakaan di sisi jendela
yang menghadap lapangan tenis. Duduk, sambil memegang buku yang tidak pernah
benar-benar aku baca. Dan… hilang akal? Ya, aku seperti hilang akal. Aku tidak
tahu apa yang biasanya dan seharusnya aku lakukan, kerjakan. Tapi rasanya
manis. Aku masih tersenyum mengingat yang biasanya dan seharusnya. Ini seperti…
bangun. Dari mimpi indah. Yang aku lupakan dalam enam detik setelah bangun. Aku
sudah lupa isi mimpinya, tapi itu adalah mimpi indah, senyumku.
Aku menutup bukuku, dan mengembalikannya ke rak. Aku
melangkahkan kakiku ke luar perpustakaan.
Aku tertegun sejenak di pintu perpustakaan sebelum
melangkah.
Yah, yang namanya mimpi, walaupun indah, kita harus bangun,
kan. Aku tersenyum lebih lebar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar