Sabtu, 19 Desember 2015

Ash

Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Dia menghela nafas panjang. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Pasti dia akan menggaruk-garuk belakang kepalanya, membuat rambut ash-nya berantakan. Enam hitungan lagi dia akan mengerjapkan matanya. Aku tersenyum. Kebiasaannya tidak berubah. Lalu dia akan menunduk, mungkin menyesali diri, mungkin malu, lagi dan lagi. Tidak terlihat dari sini, dari sisi jendela perpustakaan.

Teman-temanku mengira aku super kutu buku, yang menghabiskan jam pelajaran di perpustakaan. Padahal ini alasanku untuk pergi dari mereka. Entah siapa yang salah, aku atau mereka, tapi aku selalu sesak mendengarkan cerita mereka, yang tidak benar-benar bercerita tentang mereka, tapi orang lain. Aku sering heran bagaimana mereka bisa mendapatkan cerita-cerita itu dengan sebegitu yakinnya, padahal mungkin mereka sendiri tidak yakin dengan cerita mereka. Mereka baik kok, sangat baik malah, mau berteman denganku, kami melakukan banyak hal bersama-sama kecuali itu tadi. Dan pada istirahat sekolah tidak banyak yang bisa dilakukan, selain bercerita.

Maka aku lari kesini, dan menemukannya. Dia selalu duduk di bangku belakang lapangan tenis, yang tepat di seberang perpustakaan. Lantai perpustakaan lebih tinggi setengah lantai, aku memandangnya dengan cukup jelas dari jendela. Dia selalu ada disana. Kadang sendirian, kadang ramai bersama teman-temannya, yang ribut mengajaknya beranjak dari tempat itu. Mungkin dia sama sepertiku, mencari-cari alasan. Mungkin tidak. Kadang-kadang memang temannya ingin menemaninya, duduk bersama dia disitu. Tapi dia lebih sering sendiri. Dia biasanya memakai earphone berwarna hijau mint, lalu duduk diam. Kadang dia hanya duduk sambil setengah tertidur, membiarkan rambutnya yang berwarna ash dan agak gondrong tertiup angin sepoi. Kadang dia seperti memperhatikan seseorang, seperti salah tingkah, lalu seperti memutuskan diam saja. Ya, seperti. Karena aku tidak akan tahu apa yang sebenarnya dia lakukan. Aku cuma memperhatikannya dalam diam.

Badannya agak kurus, namun sepertinya lengannya cukup kekar, aku tidak tahu. Kemeja seragamnya sedikit kebesaran dan tidak pernah rapi dimasukkan dalam celana. Kancing di pergelangan tangannya juga tidak pernah dikancing. Kancing lehernya dibiarkan terbuka, sehingga kaos yang dia pakai di dalam seragamnya terlihat, biasanya warna coklat yang senada dengan rambut ash-nya. Dia selalu memakai kalung hitam yang dia sembunyikan di balik kerah, gagal jelas, karena aku bisa melihatnya. Sepatunya berwarna putih dan cukup bersih untuk ukuran laki-laki. Suaranya mungkin cukup merdu, aku tidak pernah benar-benar mendengarnya, dia sering ikut bernyanyi lirih ketika mengenakan earphone-nya. Mungkin dia pemain biola? Karena dia tidak pernah menggerakkan tangannya ke atas-bawah saat mendengarkan musik seperti menggenjreng gitar, melainkan menggenggam tangan nya dan menggoyangkannya ke kanan-kiri.

Kadang dia membawa kejutan, dia pernah membawa gelembung sabun yang ia tiupkan sampai gelembungnya menyentuh dan pecah di kaca jendela tempat aku memandangnya. Dia juga pernah membawa pistol air, mengerjai setiap temannya yang lewat situ dan berakhir dengan dia disiram ramai-ramai. Dia juga pernah membawa kartu sulap, mempraktekkannya ke setiap temannya yang lewat juga sampai aku hafal triknya.

Aku tahu kenapa dia temannya banyak. Dia murah senyum. Dia selalu tersenyum kecuali dia sendirian. Saat dia tersenyum lesung pipit yang cuma sebelah kanan terlihat dan matanya berbentuk garis melengkung. Matanya agak turun ke bawah, dia terlihat seperti anak anjing kalau sedang tersenyum. Kalau temannya lewat dia menyapa dengan senyum, lalu senyumnya hilang enam detik setelah temannya berlalu.

Hari ini aku masih duduk di perpustakaan di sisi jendela yang menghadap belakang lapangan tenis. Dan memperhatikannya. Akhir-akhir ini dia lebih sering diam, tidak banyak tingkah. Sudah jarang memberi kejutan. Tapi melihatnya diam sambil setengah tertidur saja sudah menarik. Setiap hari adalah kejutan, aku menghabiskan satu hari lagi untung memandanginya. Aku memandangnya sambil memangku daguku. Dia masih diam, matanya memandang lurus dan kosong, tapi teduh. Kalau dia tersenyum sinar matanya hangat, tapi kalau sedang diam seperti ini matanya teduh.

Kenapa diam?

Bisikku dalam hati.

Aku mendekatkan kepalaku ke arah jendela dan menekankan telunjukku permukaan kaca jendela, tepat di bayangan wajahnya.

Dia menghela nafas. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Dia mengacak rambutnya. Pasti dia akan mengerjapkan matanya.

Tapi saat itu dia mendongak ke atas. Matanya lurus menatap mataku. Satu. Du..

Hitunganku tidak bisa sampai ke dua. Matanya benar-benar lurus dan tajam ke mataku.

Aku terpaku.

Aku tidak merasakan jantungku berdebar lebih kencang atau semacamnya, justru.. tenang. Sekelilingku seakan berwarna putih, kecuali dia, dan rambutnya yang berwarna ash terang yang ditimpa sinar matahari, dan earphone hijau mint-nya.

Sudah kuduga, matanya teduh. Alisnya tebal dan lurus. Matanya cokelat. Teduh. Dan lama-lama menghangat.

Dia tersenyum ke arahku.

Aku membalas senyumnya.

Kami berdua sama-sama tahu. Dalam diam. Terasa seperti selamanya, yang bahkan aku tidak berkedip. Kami berbicara lewat senyum, dan mata. Matanya yang cokelat.

**

Sejak hari itu aku tidak pernah melihatnya lagi.

Dan disinilah aku, duduk di perpustakaan di sisi jendela yang menghadap lapangan tenis. Duduk, sambil memegang buku yang tidak pernah benar-benar aku baca. Dan… hilang akal? Ya, aku seperti hilang akal. Aku tidak tahu apa yang biasanya dan seharusnya aku lakukan, kerjakan. Tapi rasanya manis. Aku masih tersenyum mengingat yang biasanya dan seharusnya. Ini seperti… bangun. Dari mimpi indah. Yang aku lupakan dalam enam detik setelah bangun. Aku sudah lupa isi mimpinya, tapi itu adalah mimpi indah, senyumku.

Aku menutup bukuku, dan mengembalikannya ke rak. Aku melangkahkan kakiku ke luar perpustakaan.

Aku tertegun sejenak di pintu perpustakaan sebelum melangkah.


Yah, yang namanya mimpi, walaupun indah, kita harus bangun, kan. Aku tersenyum lebih lebar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar